Ternyata Arai kena batunya enam belas tahun kemudian.
Saat dia menimba ilmu di Eropa dan sholat berjamaah di salah satu masjid di Austria dengan imam yang terkenal, Arai tanpa sengaja dan di luar kendali, memanjangkan Amiin setelah sang mam membaca Waladhdholliin. Kelakuannya enam belas tahun lalu dibayar lunas hehe.
Kebayang sih malu dan menyesalnya Arai :)
Gambar dari https://i0.wp.com/www.salafycirebon.com/wp-content/uploads/2020/07/az-Zalzalah-Ayat-7-8.jpg?fit=720%2C604&ssl=1 |
Kisah Arai yang diuraikan Andrea Hirata, meskipun ditulis dengan nuansa humor, menghadirkan perenungan. Jadi semacam warning buat diri sendiri. Hei, Luluk, jangan macem-macem. Kau pikir Allah nggak lihat? Itu hal buruk yang kau lakukan, kau kira Allah nggak tahu. Ingat, setiap perbuatan baik atau buruk, walaupun seberat dzarrah, pasti ada balasannya.
Tetapi sebaliknya, kata-kata itu juga jadi semacam harapan. Cahaya di ujung terowongan gelap. Saat berada pada kepedihan, atau kepelikan , kata-kata itu memberi harapan. Tenang saja. Tuhan tahu. Dia menunggu saat yang tepat untuk memerimu kebahagiaan, mengeluarkanmu dari kegelapan.
Dan kemudian aku baru tahu, ternyata kata-kata itu bukan kata-kata otentik Andrea. Tapi salah satu judul cerpen Leo Tolstoy. Terjemahan dari God sees the truth, but waits.
Waktu itu aku langsung kepo dengan cerpen tersebut. Dan jauh dari kisah Arai yang meskipun agak memalukan dan tragis, tapi masih ada lucu-lucunya hehe. Cerpen Leo Tolstoy ini benar-benar tragis.
God sees the truth, but waits bercerita tentang nasib tragis seorang pedagang. Aksionov dari kota Vladimir. Seorang pria yang bahagia dalam pernikahan, sukses dalam pekerjaan, berbalik nasibnya. Dipenjara selama sisa hidupnya untuk perbuatan yang tidak dilakukannya. Nasib dan takdir seolah bersekutu memojokkan Aksionov. Bahkan ketika dia punya kesempatan untuk lolos dari penjara, dia tidak mengambilnya. Dia menerima takdirnya tanpa perlawanan.
Sebenarnya menyelesaikan membaca cerpen tersebut bukan hal yang mudah. Terlalu nyesek. Di cerpen ini, Tuhan tahu tapi menunggu seolah menjadi idiom satir. Mempertanyakan kuasa Tuhan. Bagaimana mungkin orang baik bisa bernasib sedemikian buruk? Tetapi di akhir cerita, diceritakan harapan-harapan, cahaya terang akibat kebaikan-kebaikan sang tokoh utama. Meskipun tetep nyesek sih :(
Anyway, meskipun nyesek, tentu saja kita harus tetap berpikir positif. Aku tetap mengambil spirit Tuhan tahu tapi menunggu in a positive way. Tetap bersabar. Kalau kita didzalimi, tenang saja. Biar Allah yang ngurus. Tuhan tahu kok. Allah tidak tidur. Kita harus tetap menjalani takdir kita sebaik-baiknya. Dalam agama kita diajarkan untuk berprasangka baik pada Allah. Yakin saja, Allah tidak akan menyia-nyiakan kesabaran hambaNya.