Sabtu, 04 Januari 2025

Tuhan Tahu, tapi Menunggu

Pertama mendengar kata-kata itu di salah satu novel Andrea Hirata. Pada suatu bab, diceritakan tentang Arai (taman Ikal) yang karena sering dimarahi Taikong Hamim (guru mengaji), membalas sakit hatinya dengan memanjang-manjangkan bacaan  "Amiiin"  setiap Taikong Hamim selesai membaca Al-Fatihah ketika menjadi imam.
Ternyata Arai kena batunya enam belas tahun kemudian.
Saat dia menimba ilmu di Eropa dan sholat berjamaah di salah satu masjid di Austria dengan imam yang terkenal, Arai tanpa sengaja dan di luar kendali, memanjangkan Amiin setelah sang mam membaca Waladhdholliin. Kelakuannya enam belas tahun lalu  dibayar lunas hehe.

Kebayang sih malu dan menyesalnya Arai :) 

Gambar dari https://i0.wp.com/www.salafycirebon.com/wp-content/uploads/2020/07/az-Zalzalah-Ayat-7-8.jpg?fit=720%2C604&ssl=1




Kisah Arai yang diuraikan Andrea Hirata, meskipun ditulis dengan nuansa humor, menghadirkan perenungan. Jadi semacam warning buat diri sendiri. Hei, Luluk, jangan macem-macem. Kau pikir Allah nggak lihat? Itu hal buruk yang kau lakukan, kau kira Allah nggak tahu. Ingat, setiap perbuatan baik atau buruk, walaupun seberat dzarrah, pasti ada balasannya. 

Tetapi sebaliknya, kata-kata itu  juga jadi semacam harapan. Cahaya di ujung terowongan gelap. Saat berada pada kepedihan, atau kepelikan , kata-kata itu memberi harapan. Tenang saja. Tuhan tahu. Dia menunggu saat yang tepat untuk memerimu kebahagiaan, mengeluarkanmu dari kegelapan.

Dan kemudian aku baru tahu, ternyata kata-kata itu bukan kata-kata otentik Andrea. Tapi salah satu judul cerpen Leo Tolstoy. Terjemahan dari God sees the truth, but  waits. 
Waktu itu aku langsung kepo dengan cerpen tersebut. Dan jauh dari kisah Arai yang meskipun agak memalukan dan tragis, tapi masih ada lucu-lucunya hehe. Cerpen Leo Tolstoy ini benar-benar tragis. 

God sees the truth, but waits bercerita tentang nasib tragis seorang pedagang. Aksionov dari kota Vladimir. Seorang pria yang bahagia dalam pernikahan, sukses dalam pekerjaan, berbalik nasibnya. Dipenjara selama sisa hidupnya untuk perbuatan yang tidak dilakukannya. Nasib dan takdir seolah bersekutu memojokkan Aksionov. Bahkan ketika dia punya kesempatan untuk lolos dari penjara, dia tidak mengambilnya. Dia menerima takdirnya tanpa perlawanan.

Sebenarnya menyelesaikan membaca cerpen tersebut bukan hal yang mudah. Terlalu nyesek. Di cerpen ini, Tuhan tahu tapi menunggu seolah menjadi idiom satir. Mempertanyakan kuasa Tuhan. Bagaimana mungkin orang baik bisa bernasib sedemikian buruk? Tetapi di akhir cerita, diceritakan harapan-harapan, cahaya terang akibat kebaikan-kebaikan sang tokoh utama. Meskipun tetep nyesek sih :( 

Anyway, meskipun nyesek, tentu saja kita harus tetap berpikir positif. Aku tetap mengambil spirit Tuhan tahu tapi menunggu in a positive way.  Tetap bersabar. Kalau kita didzalimi, tenang saja. Biar Allah yang ngurus. Tuhan tahu kok. Allah tidak tidur. Kita harus tetap menjalani takdir kita sebaik-baiknya. Dalam agama kita diajarkan untuk berprasangka baik pada Allah. Yakin saja, Allah tidak akan menyia-nyiakan kesabaran hambaNya.




Selasa, 05 Desember 2017

Resep Botok Telur Mimi

Koyo Mimi lan mintuno

Pernah denger ungkapan itu? Kalau penganten jawa pasti hafal ya. Bebasan itu selalu muncul saat keluarga atau sanak saudara mengutarakan harapannya. Agar pengantin bisa mengarungi rumah tangga dengan akur-akur, selalu berdua bagaikan mimi dan mintuno. Cie cie

FYI, mimi adalah binatang laut yang selalu sepasang. Jadi dari sanalah bebasan itu berasal.

Eh tapi kita nggak bahas itu ya sekarang, masak dulu.. :D
Dua sejoli mimi ini punya telur yang enak banget buat diolah. Cus..



Resep Botok Telur Mimi

Bahan:
500 gr telur mimi
Setengah kelapa muda parut
Cabe rawit utuh
Tomat merah besar, iris
Serai ambil putihnya, diiris
Daun kemangi
Daun pisang untuk membungkus
Tusuk gigi

Bumbu Halus:
10 siung bawang merah
5 siung bawang putih
2 cabe merah
6 kemiri, sangrai
1 ruas jahe dan kunyit
2 ruas lengkuas
1 lembar daun jeruk, buang tulang daunnya
Garam dan gula


Cara Membuat:

1. Campur bumbu halus, ikan telur mimi yang sudah bersih dan kelapa parut
2. Masukkan irisan tomat dan sereh
3. Siapkan daun pisang, letakkan daun kemangi dan cabe rawit sesuai selera, masukkan adonan botok, semat dengan tusuk gigi
4. Lakukan sampai adonan habis
5. Kukus selama kurleb 30 menit
6. Botok Telur Mimi siap disajikan

Gimana, mudah kan.. udah gitu, rasanya gurih gurih sedap. Hmm.. :-)
Seperti biasa, untuk penyuka pedas, rawitnya bisa dihaluskan bersama bumbu halus lainnya.
Dimakan dengan nasi hangat, botok telur mimi ini dijamin bikin nagih.
Selamat memasak bunsis.. :-)

Rabu, 22 November 2017

Resep Kerang Sambel Goreng Kecap

Bikin kerang sambel goreng kecap yuk..


Bahan:

250 gr gram kerang kupas
4 siung bawang merah, diiris tipis
3 Siung bawang putih, dicincang halus
4 buah cabe hijau, iris serong
1 buah tomat, iris kasar
Cabe rawit (optional)
1 ruas jahe, iris tipis
2 ruas lengkuas, geprek
2 lembar daun salam
2 sdm kecap manis
2 sdm saus tiram
Gula garam, air  secukupnya
Minyak untuk menumis


Cara Memasak:

1. Tumis bawang putih dan bawang merah hingga harum
2. Masukkan jahe, lengkuas dan daun salam hingga harum
3. Masukkan cabe hijau dan tomat, tumis hingga layu
4. Masukkan kerang, aduk sebentar, masukkan kecap, saus tiram, gula garam, dan air.
5. Biarkan sebentar biar meresap,  aduk-aduk, tes rasa, matikan api.
6. Kerang sambel goreng kecap siap disajikan.



Untuk yang suka pedas cabe rawitnya bisa diiris serong juga ya bunsis. Tapi kalo kayak aku yang ada anak kecil di rumah cabe rawit nya biarkan utuh. Jadi semua bisa menikmati kerang sambel goreng kecap ini.

Yuk ah dicoba resepnya, sajian kaya protein ini dijamin endes. :-)

Source resep dari vemale

Minggu, 19 November 2017

ADIKKU, SERU JUGA!

Sungguh, Alif tidak  suka bermain dengan adiknya,  Aina. Aina itu menjengkelkan. Tidak seru. Tidak seperti Ilham temannya. Dan satu lagi, cengeng. Menurut Alif, Aina mudah  menangis.

Tapi kali ini Alif harus bermain bersama Aina, karena Ibu dan Ayah pergi. Dari kemarin Ibu sudah memintanya untuk menjaga adiknya. Jadi hari ini Alif akan mengajak Aina jalan-jalan. Pergi berpetualang  dengan  stoples di tangan. Aina senang sekali begitu tahu Alif  akan mengajaknya melihat ulat berubah jadi kepompong.

"Barang yang kupesan, sudah kau bawa, kan.." tanya Alif.

Aina membuka kain penutup keranjang yang dibawanya. Kemudian diangkatnya sebuah stoples plastik bekas berukuran sedang, lengkap dengan tutupnya. Senyum Alif melebar. Mereka siap bertualang.
Pipi Aina mulai hangat oleh sinar mentari, saat mereka sampai. Alif mengedarkan pandangannya.

"Itu dia", serunya seraya menunjuk pohon mangga di ujung barat.

Gambar diambil di sini


Alif melepaskan tangan dari Aina, lalu berlari. Aina mengikuti langkah-langkah kakaknya. Setelah melepas sepatu, Alif memanjat pohon itu. Aina mengangkat kepalanya. Matanya menyipit kena sinar matahari.

"Ada tidak, Kak.." Aina melihat tangan Alif masih sibuk menyibakkan dahan dan dedaunan di atas sana.

"Kakak yakin ini pohonnya ?" tanya Aina setelah beberapa waktu tidak mendengar suara Alif.

Tetap tidak ada jawaban. Kemudian Alif  turun  perlahan. Dari bawah, Aina bisa melihat tangan kanan Alif membawa sesuatu. Bergegas Aina mengeluarkan stoples dari dalam keranjang. Diletakkannya stoples itu di atas tanah. Diambilnya beberapa helai daun mangga di dalam stoples. Aina mengernyitkan dahi begitu melihat benda yang ada di tangan kakaknya.

"Kok.. sarang burung, Kak ?" Alis Aina bertaut.

"Sepertinya ulat kita sudah dimakan duluan oleh burung-burung, sebelum jadi kepompong."

Aina diam. Mata itu berkaca-kaca. Alif mulai kesal. Ah, gitu aja nangis. Baru saja dia akan mengungkapkan rasa kesalnya, ketika matanya menangkap sesuatu.

"Lihat..!" serunya sambil menarik tangan Aina.

Beberapa saat, mereka menatap benda di angkasa itu dengan takjub. Kemudian mereka berpandangan. Seperti dikomando, mereka bergegas merapikan barang bawaan, lalu berlari ke utara.
Mereka berlari melewati kebun mangga, kemudian menyeberangi jalan desa. Setelah dua kali berhenti karena keranjang yang dibawa Aina jatuh, merekapun sampai.

Terengah-engah, Alif membuka botol minum, meminumnya tiga teguk lalu mengangsurkan pada Aina.
Senyum mereka merekah. Aina mengikuti Alif menuju gerombolan orang-orang dewasa. Beberapa diantara mereka berpakaian hijau doreng. Aina berjalan di belakang Alif. Tangannya memegang kaos kakaknya. Mereka kemudian duduk di atas bongkahan kayu, beberapa langkah dari orang-orang itu.

"Seperti yang di televisi ya, Kak.." ujar Aina gembira.

Alif mengangguk. Mata mereka melihat angkasa. Parasut warna-warni membuat mereka hampir tak berkedip. Alif tersenyum membayangkan dirinyalah yang di atas sana.
Aina mengedarkan pandangan ke tanah lapang itu. Matanya berhenti pada semak-semak di ujung. Semak itu bergerak-gerak. Aina beringsut perlahan meninggalkan Alif. Tanpa suara, Aina berjingkat mendekati semak. Antara kaget dan senang, dia memekik melihat seekor kelinci putih di hadapannya. Pekiknya berlanjut ketika beberapa saat kemudian kelinci itu lepas.
Tiba-tiba saja Alif sudah di belakangnya. Tawanya lepas melihat adiknya mengejar kelinci itu. Alif mencoba menghalau dari arah berlawanan. Mereka saling membantu menangkap binatang bertelinga  panjang itu.

Alif jadi ingat dongeng keluarga semut yang diceritakan ibu tiga hari yang lalu.
Mereka berdua tertawa-tawa. Kelinci putih itu seperti menikmati berkejaran dengan dua kakak beradik itu. Sesekali Aina menjerit-jerit kegirangan. Kuncir rambutnya bergoyang-goyang. Mukanya lucu. Alif jadi geli melihatnya. Ah, ternyata main sama Aina seru juga.

Rabu, 01 November 2017

resep udang kembang kol asam manis

Sejak full di rumah, aku jadi makin rajin masak lho. Ya iya lah, pengangguran ini. Hehe.. Dan karena sering masak, aku juga jadi lebih berani coba-coba resep gitu. Orang rumah lah yang jadi korban eksperimenku. Untungnya mereka tabah ya.. ha ha

Nah, kali ini aku coba bikin udang asam manis. Jadi ceritanya, mau bikin gimbal urang, semacam peyek udang tapi adonan tepungnya lebih banyak dan tebal. Macam bakwan tapi cuman isi udang tanpa sayur. Kapan kapan bikin posting resepnya ya.. 
Setelah buka kulkas, ternyata udangnya lumayan gede. Eman lah kalau digimbal. *emak-emak perhitungan. :D
Akhirnya kepikir buat bikin resep udang asam manis. Etapi udangnya kok dikit. Mana cukup buat makan orang serumah. *si emak ngitung lagi. 
Beruntungnya, ada sisa kembang kol di kulkas. Yasud, kita eksekusi deh. Ini nih resep udang kembang kol asam manisnya;

Bahan:
1/4 kg udang ukuran sedang (kalo ada yang besar lebih mantap)
Kembang kol sesuai selera (kalo aku pake satu wadah bekas kotak es krim)
Bawang merah 5 siung
Bawang putih 3 siung
Cabe merah 5 buah
Tomat 2 buah
Merica bubuk
Saos tomat
Saos sambel
Gula
Garam
minyak untuk menumis

Cara membuat:

1. Haluskan cabe merah dan tomat
2. Keprek bawang putih, tumis hingga harum
3. Masukkan irisan bawang merah, tumis sebentar, masukkan bumbu yang sudah dihaluskan, tumis hingga harum
4. Tambahkan air, tuang saus tomat dan saus sambel, saus tiram, gula dan garam, tes rasa
5. Masukkan kembang kol, tunggu tiga menit, masukkan udang
6. Aduk-aduk sebentar, matikan kompor
7. Udang kembang kol asam manis siap disajikan

Voila, inilah penampakan udang kembang kol asam manis ala ala :D
Maapken kalo fotonya kurang menarik ya.. he he..



Gampang kan masaknya..
Oh ya, saat udangnya udah dimasukin, masaknya sebentar aja ya. Biar rasa udangnya tetep fresh dan manis.

Selamat mencoba..
Have  a great fun cooking ya bunda..:-)

*Tulisan ini adalah tugas pekan pertama (yang sangat terlambat :-) ) dari kelas NGEBLOG SERU 3 bersama cik gu Naqiyyah Syam

Jumat, 27 Oktober 2017

mudahnya desain blog sendiri

Alhamdulillah, bisa masuk rumah lagi nih. Tiga tahun nggak disambangi sodara. Hehe. Nih blog uda bedebu dan penuh sarang laba-laba. *ambil penebah sama kemucing.

Jadi ceritanya, bulan ini berkesempatan ikut kelas Ngeblog Serunya mbak Naqiyyah Syam, founder tapis blogger. Niatnya sih, biar bisa semangat nulis lagi. Insyaallah.. 

Pas dapet materi tentang desain blog, sebenarnya aku nggak terpikir untuk mendesain ulang blog ini. Secara tampilan blog ini uda oke, menurutku sih. Dan seingatku, waktu itu, pas awal bikin blog, lumayan riweh juga pas desain. Tapi setelah menyimak materi dan mengikuti diskusi kelas, aku berubah pikiran. Yes, aku harus mendesain ulang blog ini. Alasan terbesarnya sih, kalo dipandang-pandang, tampilan blog ku agak-agak sendu gimana gitu. Jadi susah move on. *halah
Ini nih tampilan blog ku sebelumnya.


Dan dengan berat hati, aku mendesain ulang. Pilih tema sederhana dengan background putih. Biar yang berkunjung enak bacanya. Nggak butuh waktu lama kok buat desainnya. Tinggal ngikuti langkah-langkah yang dipandu mbak Naqi. Yang lama tuh milihnya. Milih temanya, tata letaknya, ganti deskripsi blog.

Sabtu, 15 Maret 2014

My Avilla, sebuah novel tentang pencarian Tuhan

Sebenarnya udah lama banget pengen bikin review dari buku yang udah dibaca. Tapi baru sekarang kesampaian. Dengan ikut IRC 2014, mudah-mudahan bisa terpaksa belajar  bikin review setiap abis baca buku. Jadi, this is my first review..

Judul            : My Avilla
Penulis         : Ifa Avianty
Penyunting   : Asri Istiqomah
Penerbit       : Indiva Media Kreasi
Tebal Buku  : 184 halaman
Tahun Terbit : 2012
ISBN           : 978-602-8277-49-5


Fajar yang sejak kecil menderita low vision, dan mengalami perlakuan tidak adil dari mama dan kakak yang malu dengan kondisinya, tumbuh menjadi pemuda pendiam, pemalu, canggung dan tampak sedih (hal 51). Berbeda dengan Margriet yang ceria, cerdas, selalu berprestasi dan idola semua orang saking baiknya
(hal. 26).

Dua orang yang sangat bertolak belakang. Kesamaan mereka hanyalah kegelisahan mereka akan konsep tuhan dan beragama yang mereka anut (hal 56). Kesamaan yang membawa mereka pada dialog mengenai Tuhan. Dialog yang membuat mereka dekat dan saling menaruh hati. Fajar yang pertama mengungkapkannya. Tapi meskipun sadar akan perasaannya, Margriet tentu saja menolaknya. Selain menyadari bahwa sebagai muslimah, tidak mungkin dia memelihara virus merah jambu itu, ada alasan lain yang tidak terbantahkan. Yaitu bahwa Fajar terpaut empat tahun di bawahnya, dan Trudy, adiknya sangat menyukai Fajar.

Kisah berikutnya mengenai Fajar yang akhirnya meninggalkan luka hatinya karena ditolak Margriet dan melanjutkan pencarian akan kegelisahannya  hingga mengambil studi di Roma. Juga kisah move on nya Margriet hingga menikah dengan Phil, teman mengajarnya di kampus, muallaf yang bersungguh-sungguh menjalankan agama.

Takdir kemudian mempertemukan Fajar dan Margriet kembali. Setelah kematian ayah Fajar, kecelakaan Trudy, Sakitnya Fajar dan kematian Phil. Dan tentunya setelah perjalanan mereka mencari Tuhan dengan cara mereka masing-masing.

Novel "My Avilla" adalah juara III Lomba Penulisan Novel Inspiratif Indiva 2011. Di samping karena menang lomba, nama penulisnya pun udah jaminan toh..:)
Di sampul belakang, disebutkan bahwa

"Novel ini adalah novel drama cinta nan romantis. Tentu saja cinta yang memberikan lautan inspirasi."

Setuju dengan statement tersebut. Ceritanya memberi inspirasi mengenai cara kita meyakini agama yang kita anut. Setidaknya setahuku, kita emang dilarang untuk taklid buta. Yap, memahami agamapun perlu ilmu. Dan tokoh-tokoh dalam novel ini menggambarkan para pencari Tuhan.

Di samping tentang pencarian Tuhannya, seperti yang tadi aku bilang. Ini novel drama banget. Bikin termehek-mehek juga lho.. Coba baca saat Fajar nekat ndatengin Margriet di kampusnya.

"Saya..akan menunggu..sampai kamu siap..."
"Oh, please, saya nggak akan pernah siap untuk ini. Untuk hubungan aneh ini, Jar. Jangan pernah tunggu saya."

Tenang aja, waktu itu, mereka nggak berdua kok, ada Luna, sahabat Margriet bersama mereka. :)

Oh ya, ada yang terlewat. My Avilla, judul novel ini, diambil dari panggilan Fajar untuk Margriet. Avilla adalah nama tengah Margriet yang berarti my angel. so sweet banget kan.. he..he..

Dan suka banget dengan kalimat di akhir halamannya.

Kebahagiaan itu sesungguhnya sederhana. Dia ada di hati yang bersyukur, dan ketulusan mencintai serta memafkan.